Bangkit Lagi
Jauhku datang padamu, kuingin belajar lebih darimu yang tak pernah mengenal lelah. Engkau sangat semangat sekali mengejar mimpi itu hingga pernah merasakan “jenuh” oh, tidak, saya hampir menyerah dimana saya kehilangan semangat. Bukan main, saat mengetahui saya gagal, “saya menangis keras, ada ibu dan temanku yang memeluk saya. Padahal saat itu saya puasa, ya ampun batallah puasaku”. Tak pernah kusalahkan Allah karena sebelum saya buka pengumuman itu, saya selalu ingat dengan kata-kata senior saya “Mit, sebelum buka pengumuman harus sudah terima kenyataa yah. Baik itu gagal atau lolos, supaya kamu tidak merasakan sakitnya gagal memujudkan mimpi kamu”
Kukejar matahari itu hingga tenggelam dan terbit lagi, rasa lelah saat belajar tak pernah keluar dari mulutku.
Semangatku bangkit ketika saya memikirkan kedua orang tuaku “saya harus kembali bangkit lagi, jangan tanya mengapa saya bisa begini tapi bagaimana saya bisa bangkit lagi”, akhirnya saya mekar pada waktuku sendiri.
Terima kasih untuk wajah kedua orang tua yang setiap waktu terbayang-bayang dipikiranku.
Rasa gagal yang kumiliki kemarin sangat berarti padaku, dan akan kuceritakan pada semua orang. Bagaimana sangat berarti, sampai sekarang inipun semua yang saya impikan alhamdulillah terwujudkan.
Comments
Post a Comment