Penyuluhan Apoteker di Pedalaman Halmahera Utara, Desa Dorume

        "Ibu, saya mau izin bantu teman penyuluhan tentang pengelolaan obat yang benar di puskesmas Dorume ibu, desa sangat terpencil yang itu hari saya izin mau ikut upacara 17 Agustus hehe ibu tahu kan maksudku". Tiap mau melakukan sesuatu alhamdulillah komunikasi sama orang tua tidak pernah putus. Merekalah penyemangat saya selama di tanah rantau ini.

          "Sebab, ku pilih menjadi anak rantau agar saya semakin kuat dan tegar mengahadapi masalah-masalah. Memang sulit jauh dari orang tua. Memang sulit hanya sebatang kara di tanah rantau ini. Tapi dengan berinteraski langsung sama masyarakat, rasa sedih rindu ketemu ayah ibu hilang seketika. Tidak tahu kalau tiba-tiba rindu lagi. Berat".

         Kementerian Kesehatan tlah mewujudkan mimpi saya menjadi bagian anggota keluarga Nusantara Sehat. Yeehh euforia bersama ayah dan ibu, padahal sampai sekarang mereka berdua masih sedih karena saya merantu jauh katanya. Memilih lokasi sangat terpencil versi Nusantara Sehat pada saat itu, sangat sulit sedangkan saya makin membara atau tidak sabar untuk memilih lokasi, minta restu ke orang tua untuk mengambil Papua tapi tidak di izinkan. Padahal saya mau berbeda dari yang lain yang hanya di daerahnya saja, seperti teman angkatan Nusantara Sehat saya saat ini, semuaya rata - rata dari Maluku Utara.

        Teman dekat saya, drg. Diana pernah membisikan sebuah kalimat "cintailah desamu sendiri sebelum mencintai desa orang". Justru desakulah, Dum - Dum yang membuat saya makin cinta dengan Halmahera Utara. Sungguh sangat mencintai desa yang saya pilih dan atas restu orang tua alhamdulillah menjelang satu tahun mengabdi di Nusantara Sehat, Halmahea Utara - Maluku Utara saya mendapatkan sejawat Apoteker yang ingin berkolaborasi penyuluhan di desanya, Dorume - Halmahera Utara.

        Dorume yang pernah saya kunjungi, sewaktu 17 Agustus 2020, desa sangat terpencil di Halmahera Utara. Entah kenapa saya penasaran sekali dengan Dorume. Apakah karena niat awal untuk mencari lokasi yang sangat terpencil tetapi pada hari itu, lokasi sangat terpencil versi Nusantara Sehat tidak ada sama sekali, karena itu saya memilih lokasi biasa di Halmahera Utara, desa Makaeling tepatnya di Puskesmas Dum - Dum dan menghantui pikiran saya hingga saat ini karena mengingat kata-kata teman  saya yang berpengalaman di Nusantara Sehat juga "ah mitha, kenapa tidak sekalian ambil di perkotaan saja kalau jadinya begitu? Katamu di sana, air sangat sulit dan listrik sering padam, untung kamu punya kebun sayur tapi ujung-ujungnya di makan sama kambing. Kasihan yah kamu dek"- abang drg. Akhy. Memilih puskesmas Dum - Dum bukan karena terpaksa, tapi karena namanya unik seperti nama minuman di Makassar hehe "ya ampun (sambil tepuk jidat) iya juga sih, kenapa yah tidak survey dulu sebelum ngambil lokasi ini hmmm". Karena beach addict juga sih, kirain pantainya dekat dengan desa saya ternyata main kilometeran. Huft *tepuk jidat 2x "nasi sudah menjadi bubur".

         "Tres, yuk buat kegiatan penyuluhan tapi ini bersifat mandiri. Artinya yah siap-siap budget" tanyaku sewaktu ngopi di caffe Tobelo.

         "Ayo kak Mitha" dengan semangatnya Tresna yang membara.         

        Puskesmas Dorume, Kecamatan Dorume, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Atas izin kepala puskesmas Dorume dan Apoteker Tresna mengundang saya untuk berkolaborasi penyuluhan bersama sejawat Apoteker, dengan tema penyuluhan "Dagusibu dan Penggunaan Obat Antiobiotik Secara Rasional". 

         Tanggal 12 Oktober 2020, Senin sore menunggu mobil penumpang ke desa Dorume bersama Tresna yang bertugas di puskesmas Dorume. Pukul 17.00 mobil penumpang sudah datang menjemput kami di kostan, muatan-muatan kami simpan dibagin bawah kaki agar aman, sayapun mengambil posisi duduk sambil menikmati perjalanan, memasuki maghrib sambil berniat agar insyaAllah sholat setelah tiba di rumah dinas Tresna. Tidur lagi dan tiba-tiba kelaparan, untung pernah pengalaman ke Dorume bersama adik Nita saat ingin mengikuti upacara 17 Agustus (saat itu saya benar-benar terharu atas izin ke dua orang tua saya, saya akhirnya mewujudkan beberapa mimpi besar) persiapan makanan kecil seperti terang bulan dan martabak karena memang ini perjalanan sangat lama dan hanya melewati hutan-hutan. Saya tertidur hingga tiba di wilayah kerja Puskesmas Dorume yaitu Kailupa, saya terbangun karena makin penasaran dengan sungai Kailupa yang terhubung langsung dengan lautan “Kak mitha, bangun bangun sudah dekat sungai kailupa” ujar Tresna “oh iya, saya mau merekam hehe”. Pukul 21.00 tiba di sungai kailupa yang perkiraan tiba di Dorume pukul 21.30, mobil makin pelan-pelan eh ternyata di depan sana mobil-mobil pada berhenti dikarenakan ombak Loloda lagi kencang, mobil yang saya tumpanginpun ikut menunggu hingga air sungai Kailupa surut, untung ada bekal yang dibawa dari Tobelo hehe. Pukul 22.30 makin bingung nyebrangnya bagaimana karena air belum juga surut tapi kebingunan itupun dihibur oleh anak kakak bidan puskesmas Dorume yang barengan sama kami dimobil penumpang, dihibur dengan lagu khas maluku utara sambil baronggeng (joget). Kebetulan saya pernah datang juga di Dorume dan alhamdulillah sudah akrab sama orang-orang puskesmas dan rumah dinasnya. Tidak lama kemudian ambulance dorume datang, anak kakak bidanpun teriak gembira “ambulance, bapak ee yang bawa oto ambulance”. Belum ada pikiran kalau mau jemput kami eh ternyata kan barengan sama istrinya dimobil penumpang. 

Saya, Tresna, adik Angge, adik Anggian, kak Yani dan suaminya mengajak kami menyebrang sungai yang dangkal dan ternyata berdekatan dengan laut, gelap dan pukulan ombak begitu keras, saya barusan dengar suara ombak yang begitu keras, deg-degkan sambil memegang handphone yang lampunya telah menerangi jalan batu-batu kecil yang menusuk kedua kaki "aduh aduh Tres, tunggu kita kah. Kita kesakitan ee siooo (kasihan)", setelah melewati bebatuan kecil, kami juga melewati tanaman liar. Tiba di ambulance "oh ya Allah syukurlah so tiba di oto" euforiaku. Naik ambulance menuju rumah dinas, tergoncang-gancing di atas ambulance dan sempat terangkat sekitar setengah meter hahaha "kak Mitha, kak Mitha bapegang ee" Tresna yang berpegang erat, "kak Mitha mana hp, kita(saya) video ngoni (kamu)". Tiba juga di rumah dinas dan langsung membersihkan diri, mengambil posisi untuk istirahat di kamar Tresna bersama kak Zia, memberikan saya bantal kepala dan bantal guling, "ya ampun kak, kita lupa sholat hahaha ya Allah ya Allah enaknya lagi langsung di tempat tidur" dengan gaya terkaget dari tempat tidur.

13 Oktober 2020, hari pertama untuk penyuluhan. Dokter Kristina, Kak Arni (Kesehatan Masyarakat), Kak Zia (Kesehatan Lingkungan), adik Nita (Analis Laboratorium dan TS Tresna (Apoteker), disusul mbak Tisna (Perawat) yang lagi persiapan berangkat posyandu tapi tidak bisa join bersama kami untuk penyuluhan, teman-teman saya ini adalah saudara baru di tanah rantau Halmahera ini, Nusantara Sehat juga. Oke siap persiapan perjalanan kaki hampir 3 kilometer ke SMP Kristen Dorume, janjian jam 8 dan akhirnya berangkat jam 9. Tidur nyenyak bukan karena terlambat tapi ada perubahan waktu. Tiba di SMP Kristen Dorume Memberikan semangat untuk adik-adik, menyanyikan lagu kebangsan Indonesia Raya dan lagu Laskar Pelangi tapi sayang seribu sayang, ekspektasi saya saat menyuruh adik-adik menyanyikan Laskar Pelangi tidak tahu sama sekali, saya pikir mereka terpengaruh oleh lingkungan apalagi sosial media, "ngoni (kamu) pikir ini di kota yang tahu laskar pelangi mit?" Ucapan kak Arni. "ya ampong kak, kita (saya) tra (tidak) pikir sama sekali juga e" jawabku. Baiklah, mari melangkah yang mudah. Memberikan materi mengenai tema penyuluhan Pengelolaan Obat Yang Benar "Dagusibu dan Penggunaan Obat Antibiotik Secara Rasional". Saling lempar materi kepada sejawat saya, memberikan pertanyaan kepada adik-adik, memberikan hadiah jikalau jawabannya benar, sesekali mereka suntuk lalu kak Arni memberikan yel yel. Akhirny mereka semangat lagi. Selesai hari pertama penyuluhan, kembali ke rumah dinas, mampir di kios sambil menikmati sekaleng susu kaleng yang dibeli Tresna. Namanya juga penyuluhan mandiri yah harus mandiri hehe

Tanggal 14 Oktober 2020. Lanjut hari ke-2 penyuluhan ke SMP Negeri 8 Halmahera Utara dan dilanjut ke SMA Negeri 10 Halmahera Utara. Sama seperti cerita perjalanan penyuluhan ke SMP Kristen Dorume hanya saja hal biasa menghadapi anak-anak SMA saat penyuluhan "hadeuh mit, susahny diatur anak SMA" keluhan kak Arni, tapi berhasil juga penyuluhan ini. Mampir ke kios tapi kali ini saya yang bertanggung jawab memberikan konsumsi kepada teman-teman saya yang baik hati dan paling setia menemani kami di penyuluhan ini.

15 Oktober 2020, pukul 16.19. Kali kedua ke Dorume membuatku makin pengen lagi main ke Dorume hehe turun langsung berinteraksi dengan masyarakatnya dan paling bahagia kalau belum sampai satu meter depan rumahnya suka menyapa diluan “ibu bidan mau ke mana?” Pokoknya sepanjang jalan itu disapa terus sama warga Dorume. Lanjut untuk penyuluhan terakhir bersama masyarakat desa Dorume di gedung pertemuan, memberikan penyuluhan kepada opa oma, bertanya mengenai obat-obatan yang beredar di warung "jadi ade bagaimana solusinya ini agar warung-warung tra (tidak) jual obat-obat di warung apalagi ngoni (kamu) bilang obat itu harus didapatkan dari resep dokter, terutama antibiotik yang sangat perlu diketahui aturan pakainya" tanya opa-opa, saya dan Tresna bergantian menjawab pertanyaan. Hampir setahun mengabdi saya barusan mengadakan penyuluhan seperti ini, diajak sejawat untuk melakukan bersama-sama. Step by step alhamdulillah selesai juga. 



Singkat ceritanya, sepulanh penyuluhan saya mencari mobil penumpang untuk pulang ke Tobelo dan lanjut pulanh ke desa saya, Dum - Dum. Telpon kenalan-kenalan mobil penumpang, telpon kepala puskesmas saya memberitahukan kalau besok baru bisa pulng soalnya sungai Kailupa lagi meluap hufttt "ih mit, kalau cuaca begini toh jangan berani melintas kamari" ucap kakak puskesmas Dorume. Bener juga sih wkwk lupa mwmikirkan hal seperti itu tapi tiba-tiba kakak bidan puskesmas Dorume menawari saya “mitha, mitha ikut sama mas tri kan ke tobelo? Klu ikut, mas tri sudah diseberang sungai kailupa, nanti kita antar sampai sungai naik motor” Kata kakak bidan wakakak. Nekat mau balik karena takut sungai Kailupa makin meluap, pasrah saja. Kabar baik kalau dokter puskesmas Dorume bantu saya dan kak Arni juga ikut ke Tobelo karena mendadak ada kegiatan dinas kesehatan. cari mobil penumpang alhamdulillah dapat dan ternyata bapak pendeta yang siap antar. Bantu teman apoteker untuk siapkan obat-obatan untuk diantar ke rumah warga yang datang berobat tadi karena stok obat dipenyuluhan sudah habis. Alhamdulillah dikasih sayur-sayuran dan buah-buahan sama oma. 


         Pamit bersama teman-teman yang turut membantu penyuluhan ini, pamit bersama kakak-kakak puskesmas Dorume yang selalu menawari makan pagi, siang dan malam, pamit bersama dokter yang paling setia mendengar keluh kisahku selama merantau dan memaksa saya untuk tidur di rumah dinasnya. Terima kasih atas hikmahNya.


     Perjalanan pulang penyuluhan membuatku makin penasaran mengujungi pelosok-pelosok dan mengubah mindset masyarakat menjadi mengetahui tentang obat-obattan. Mengambil penumpang yang ternyata kepala desa Supu dan salah satu pegawai karantina pertanian, ngobrol mengenai jalan-jalan yang sangat miris. Selama perjalan menuju pulang, aman-aman saja meskipun sempat tinggal beberapa menit untuk mengecek ketinggian dibeberapa sungai, pak pendeta yang semangat sekali mengukur ketinggian air sungai sambil mengangkat celannya "sopir harus siap celana pendek ibu bidan supya bisa cek ketinggian air" ucap pak pendeta. 



Melewati 4 sungai yang harus hati-hati, dengan tulusnya seorang membantu kami pulang "supaya ibu bidan masuk kerja lagi toh" ih saya terharu pak pendeta ngomong seperti itu. Alhamdulillah telah tembus melewati desa demi desa yang memiliki sungai besar dan sungai kecil serta jalanan yang kurang bagus. Melihat pak pendeta nyetir mobil lagi kecepatan 20km/jam dalam hatiku ya ampun, kayaknya pak pendeta lagi capek nih "Pak, pak pendeta tra capek toh? Kalau capek kita ganti dah" tanyaku, "trada (tidak ada) ibu bidan, biar kita pelan-pelan saja toh yang penting tiba dengan selamat" asiappp pak pendeta yang baik hati. 


       "Mit, makan apa ? Tanya kak Arni, "terserah kak Arni makan apa joh". Mengantar pak kepala desa tiba di kostannya, ditawari ikan segar yang dia bawa dari desanya "ya pak, kita pe kost toh trada peralatan dapur. Makasih ee pak". Balik haluan ke warung makan bersama kak Arni dan pak pendeta, selesai makan dan diantar ke kostan. Istirahat sejenak dan tibalah subuh yang menjemput saya di depan kostan, yaitu kak Anto, mobilnya telah terparkir di depan kostan untuk menjemput dan mengantar saya ke desa Dum - Dum. Good bye Tobelo dan Dorume ucapku dalam tidur ayam-ayam. 


       Penyuluhan kolaborasi sejawat apoteker. Tampaknya baik-baik saja. Gagal ikut bakti sosial kesehatan ke desa sangat terpencil di desa Patlean - Halmahera Timur bareng dr. Sidiq, drg. Aky dan drg. Diana, terbayarkan juga dipenyuluhan desa sangat terpencil di desa Dorume - Halmahera Utara. Alhamdulillah Allah maha baik mana yang terbaik. sebagian rencana Oktober alhamdulillah terlaksanakan. Tiba-tiba didatangkan kabar pekan depan akan full time lagi, kaget jadwal. Sempat biarkan kamar berantakan, ikut kakak Neta dan kakak Fardinan untuk melakukan pelacakan Imunisasi dan pemberian pot dahak. Tiba di desa yang tidak ada sama sekali jaringan akhirnya ngobrol sama ibu yang anaknya di suntik vaksin eh ternyata suaminya orang Bugis Bone. Bawa pulang ambulance. Tiba di rumah. Istirahat. Putar musik. Tidur. terbangun 4.16am. Putar musik. Agak enakan. Packing lagi untuk berangkat mengikuti kegiatan workshop selama seminggu di Tobelo. Packing lagi untuk pulang ke rumah bertemu ayah, ibu, kakak dan adik-adik.


"Bersabarlah, bersabarlah anak rantau. Akan ada hal indah menantimu di rumah. Ayah dan ibu"


“Apa yang kita suka, itu belum tentu terbaik untuk kita” - Negeri 5 Menara. A. Fuadi


Terima kasih ces. 

Comments

Popular posts from this blog

Bandung Sejuk Bukan Dingin

Bangkit Lagi